MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
ISLAM DAN SEJARAH PERADABANNYA DIBAWAH CULTURE MELAYU
Dosen Pembimbing:
Drs. Sayuti, S. M.Pd.I
BAHASA DAN SASTRA INGGRIS
FAKULTAS ADAB DAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
IAIN SULTAN THAHA SYAIFUDDIN JAMBI 2009
KATA PENGANTAR
Pertama penulis memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat allah Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis masih bisa di beri kesempatan untuk menulis dan menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk membantu para pembaca khususnya mahasiswa dalam mempelajari ilmu Sejarah Peradaban Islam dengan judul “ISLAM DAN SEJARAH PERADABANNYA DIBAWAH CULTURE MELAYU”. Dan membahas tentang sejarah masuknya islam ke wilayah melayu, serta pengaruh agama Islam terhadap perubahan dan perkembangan peradaban melayu.
Penulis menyadari dalam pembahasan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Jambi, Januari 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
2. Rumusan masalah dari makalah ini berupa:
Proses apa saja yang berlangsung dari Masuknya Islam ke Wilayah Melayu?
Kerajaan apa yang berdiri pertama di Sumatera dan Jawa?
Perkembangan apa yang terjadi di Wilayah Nusantara setelah Islam masuk?
Peninggalan-peninggalan sejarah dari masuknya Islam ke Wilayah Melayu?
Apa pengaruhnya Islam masuk ke Wilayah Melayu?
3. Tujuan penulisan makalah in adalah:
Mengetahui proses berlangsungnya Islam masuk ke Wilayah Melayu.
Mengetahui kerajaan-kerajaan Islam yang berkembang di Sumatera dan Jawa.
Dapat mengetahui perkembangan pada saat Islam masuk.
Mengetahui peninggalan sejarah dari awal masuknya Islam.
Ingin mengetahui pengaruh Islam masuk ke wilayah Melayu?
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH MASUKNYA ISLAM KEWILAYAH MELAYU
Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke China dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar pesisir. Islam masuk ke wilayah Melayu dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga islam sangat mudah diterima masyarakat Melayu.
Sejak abad pertama, kawasan Selat Malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya (adab ke 7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749).
Menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia ditempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang Muslim itu beragama Islam. Adanya para pedagang Arab tersebut, hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran.1 Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatera, (Sunda kelapa dan Gresik di Jawa).2
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang muslim Persia, Arab, India, sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negri China. Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari Dinasti Tang, telah datang 4 orang muslim dari jazirah Arabia: Pertama, Bertempat di Canton (Guangzhou), Kedua: Menetap di Chow, Ketiga dan Keempat: bermukim di Coang Chow.
1Taufik Abdullah, op. cit., hlm. 35.
2Taufik Abdullah (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991), hlm. 34.
Para pedagang dan mubalig Arab dan Persia yang sampai di China Selatan juga menempuh pelayaran melalui Selat Malaka. Melalui Selat Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara dibawa ke China dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan langsung dengan malaka pada waktu itu. Selat Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting.
Perjalanan melintasi Laut Arab bercabang dua: jalan pertama disebelah utara menuju telok Oman, melalui Selat Ormuz, ke Teluk Persia, jalan kedua melalui Teluk Aden dan Laut Merah, dan dari kota Suez perjalanan harus melalui daratan ke Kairo dan Iskandariah. Menurut J. C. van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal.3
Ada beberapa pendapat dari para ahli sejarah mengenai masuknya Islam ke kawasan Melayu:
a. Menurut Zainal Arifin Abbas, Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M (684 M). Pada tahun tersebut datang seorang pemimpin Arab ke Tiongkok dan sudah mempunyai pengikut dari Sumatera Utara.
b. Menurut Dr. Hamka, Agama islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M. berdasarkan catatan Tiongkok, saat itu datang seorang utusan Raja Arab Ta Cheh (kemungkinan Muawiyyah bin Abu Sufyan) ke kerajaan Ho Ling (Kaling/Kalingga) untuk membuktikan keadilan, kemakmuran dan keamanan pemerintah Ratu Shima di Jawa.
c. Menurut Drs. Juneid Parinduri, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 760 M karena di Barus Tapanuli, didapatkan sebuah makam yang ber angka Haa-Mii.
d. Seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963, mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad 1 H/ abad 7 M langsung dari Arab.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase, antara lain:
Æ Singgahnya pedagang-pedagang Islam dipelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama China;
3 J. C. van Leur, Indonesian Trade and Society, (Bandung: Sumur Bandung, 1960), hlm. 91.
Adanya komunitas-komunitas Islam dibeberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya disamping berita-berita juga, makam-makam Islam;
Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.4
Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota pelabuhan tepi pantai yang dibuat pada abad ke 10. Di dalamnya termasuk Langkasuka Lembah Bujang di Kaedah, dan juga Beruas dan Gangga. Negara di Perak dan Pan-Pan Kelantan, diperkirakan semuanya adalah kerajaan Hindu atau Budha. Islam tiba pada abad ke-14 di Trengganu.
Kesultanan Malaka didirikan dibawah sebuah dinasti, yang didirikan oleh Parameswara, pangeran dari Palembang, Indonesia, di dalam kekaisaran Sriwijaya. Menurut Tarikh melayu, disitulah dia menyaksikan kancil mengecoh anjing ketika berteduh dibawah pohon Malaka. Dia mengambil apa yang dia lihat sebagai pertanda yang baik dan kemudian dia mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Malaka, kemudian ia membangun dan memperbaiki fasilitas untuk tujuan perdagangan. Peralihan agama Parameswara ke Islam tidaklah jelas. Menurut sebuah teori oleh Sabri Zain, Parameswara menjadi seorang muslim ketika dia menikahi seorang Puteri Samudera Pasai dan dia menyertakan gelar bergaya Persia “Shah”, dengan menyebut dirinya Iskandar Shah.
Menurut Uka Tjandra Sasmita, proses masuknya Islam ke wilayah Melayu yang berkembang ada enam,5 yaitu:
þ Saluran perdagangan
Proses masuknya Islam adalah melelui perdagangan. Kesibukan perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia, dan India) turut andil dalam perdaganagan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan Timur Benua Asia. Melalui saluran perdagangan ini sangat menguntungkan karena para Raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.
Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran Islamisasi melalui perdagangan ini dipesisir Pulau Jawa. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karena anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa.
4Taufik Abdullah, op. cit., hlm. 39.
5Uka Tjandra Sasmita, op. cit., hlm.188-195.
Saluran Perkawinan
Para pedagang Muslim memiliki status sosisal yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, karena penduduk pribumi terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum menikah mereka di Islamkan terlebih dahulu.Ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawanatau anak raja dan anak adipati.
Saluran Tasawuf
Pengajaran-pengajaran tasawuf atau para sufi mengajarkan teofosi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan yang menyembuhkan. Dengan tasawuf,”bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama naru itu mudah dimengerti dan diterima. Ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M.
Saluran Pendidikan
Proses Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Dipesantren atau pondok itu , calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang kekampung masing-masing atau berdakwah ketempat tertentu mengajarkan Islam.
Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
Saluran Politik
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
Untuk lebih memperjelas bagaimana proses masuknya agama Islam di Asia Tenggara ini, ada 3 teori diharapkan dapat membantu memperjelas tentang penerimaan Islam yang sebenarnya:
Menekankan peran kaum pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir lndonesia, yang kemudian melakukan asimilasi dengan jalan menikah dengan beberapa keluarga penguasa local yang telah menyumbangkan peran diplomatik, dan pengalaman lnternasional terhadap perusahaan perdagangan para penguasa pesisir. Kelompok pertama yang memeluk agama lslam adalah dari penguasa lokal yang berusaha menarik simpati lalu-lintas Muslim dan menjadi persekutuan dalam bersaing menghadapi pedagang-pedagang Hindu dari Jawa.
Menekankan peran kaum misionari dari Gujarat, Bengal dan Arabia. Kedatangan para sufi bukan hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang dan politisi yang memasuki lingkungan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan memasuki perkampungan di wilayah pedalaman. Mereka mampu mengkomunikasikan visi agama mereka dalam bentuknya, yang sesuai dengan keyakinan yang telah berkembang di wilayah Melayu.
ð Lebih menekankan makna lslam bagi masyarakat umum dari pada bagi kalangan elit pemerintah. Islam telah menyumbang sebuah landasan ldeologis bagi kebajikan lndividual, bagi solidaritas kaum tani dan komunitas pedagang, dan bagi lntegrasi kelompok parochial yang lebih kecil menjadi masyarakat yang lebih besar (Lapidus, 1999:720-721). Tidak terdapat proses tunggal atau sumber tunggal bagi penyebaran lslam di Wilayah Melayu, namun para pedagang dan kaum sufi pengembara, pengaruh para murid, dan penyebaran berbagai sekolah agaknya merupakan faktor penyebaran lslam yang sangat penting.
A.1 Kondisi Dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan Di Wilayah Melayu
Masuknya Islam ke daerah-daerah di wilayah Melayu tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya kedaerah Semenanjung Malaka sampai Kaedah. Penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Keterlibatan orang-orang Islam dalam bidang politik baru terlihat pada abad ke-9 M, ketika merekaterlibat dalam pemberontakan petani-petani Chinaterhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-899).
Sebagian Muslim terbunuh, dan sebagian lainnya lari ke Kedah dan Palembang untuk meminta perlindungan dari kerajaan Sriwijaya. Kemunduran politik dan ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kerajaan Jawa ini melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 M dan dan berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera.
Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedaganag muslim untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik dan perdagangan. Banyaknya daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan bercorak Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai dipesisir Timur Laut Aceh.6 Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baikdalam bidang politik maupun perdagangan.
Kekacauan-Kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana Kerajaan Singasari, juga berlanjut kerajaan Majapahit tidak mampu mengontrol daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaannya hingga anad ke-16 M.7
A.2 Munculanya Pemukiman-Pemukiman Muslim Dikota-Kota Pesisir
Untuk menghindari gangguan Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara waktu kapal-kapal memilih berlayar menelusuri pantai Barat sumatera.
6Ibid., hlm. 3.
7Ibid., hlm. 4.
Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515), dalam Suma oriental-nya, dapat diketahui bahwa daerah-daerah dibagian pesisir Sumatera Utara dan Timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan Islam. Proses Islamisasi kedaerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatera Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan ke-17 M.
A.3 Kerajaan Kerajaan Islam Pertama di Sumatera
1. Samudera Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Kembar. Kerajaaan ini terletak dipesisir Timur Laut Aceh. Bukti berdirinya kerajaan samudera pasai pada abad ke-13 M itu didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.
Malik Al-Saleh, Raja pertama itu, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal itu diketahui melalui tradisi hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Melayu. Dari segi peta politik, munculnya kerajaan samudera pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya. Gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar sultan Malik Al-Saleh. Merah Selu adalah putra Merah Gajah.
Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara. Selu kemungkinan berasal dari kata sungkala yang aslinya berasal dari Sanskrit Chula. Tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudera Pasai adalah muara sungai Peusangan. Ada dua kota yang terletak berseberangan di muara sungai peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota samudera terletak agak lebih kepedalaman, sedangkan kota pasai terletak lebih ke Muara.
Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanan dari Delhi ke China. Pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Sa-mu-ta-la (Samudera) mengirim pada Raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan disana. Kerajaan Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran. Tome Pires menceritakan, di Pasai ada mata uang Dirham.
Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 M, ditemukan lagi 11 mata uang dirham diantaranya dituliskan nama Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, Sultan Ahmad, dan Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 M dan 15 M.
Atas dasar mata uang emas yang ditemukan itu,dapat diketahui nama-nama raja dan urut-urutanya, sebagai berikut: Sultan Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M, Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M), Mahmud Malik al-Zahir (1326-1345 M), Manshur Malik Al-Zahir (1345-1346 M), Ahmad Malik Al-Zahir (1346-1383 M), Zain Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M), Nahrasiyah (1402-?), Abu Zaid Malik Al-Zahir (?-1455 M), Mahmud Malik al-Zahir (1455-1477 M), Zain al-Abidin (1477-1500 M), Abdullah Malik Al-Zahir (1501-1513 M), dan sulatan yang terakhir adalah Zain Al-Abidin (1513-1524 ).8Kerajaan samudera pasai berlangsung sampai tahun 1524 M.
2. Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak didaerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten aceh besar. Disini pula terletak ibu kotanya. Anas Machmud berpendapat kerajaan aceh berdiri pada abad ke-15 M, diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). menurut H. J. de Graaf, aceh menerima Islam dari pasai yang kini menjadi wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14.9
Kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah. Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasaan kedaerah Pidie. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan Sultan-sultan Deli dan Serdang.10
Peletak dasar kerajaan Aceh adalah sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637). Aceh menguasai pelabuhan dipesisir timur dan Barat Sumatra. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699 M.
A.4 Tumbuh Dan Berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Islam Di Jawa
1. Demak
Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama diJawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.11 Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Patah.
8Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, op.cit., hlm. 430.
9H. J. de Graaf, op.cit., hlm. 5.
10Anas Machmud, op.cit., hlm. 290.
Penerimaan Raden Patah berlangsung kira-kira diakhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia digantikan anaknya, Sambrang Lor, dikenal juga dengan nama pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin. Ia memerintah pada tahun 1524-1546. Penaklukan sunda Kelapa berakhir tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan.
Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 itu juga.12Pada tahun 1529, Demak berhasil menundukkan Madiun, Blora (1530), Surabaya (1531), pasuruan (1535), dan antara 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544). Daerah jawa tengah bagian selatan sekitar gunung merapi; pengging dan Pajang berhasil dikuasai berkat pemuka Islam, Syaikh siti Jenar dan sunan Tembayat.13
Pada tahun 1546, dalam penyerbuan ke Blambangan, sultan Trenggono terbunuh. Ia digantikan adiknya Prawoto. Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria Panangsang dari Jipang pada tahun 1549. kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan Oleh kerajaan Pajang dibawah Jaka Tingkir yang berhasil membunuh Aria Panangsang.
2. Pajang
Kesultanan yang terletak di daerah Kartasura sekarang ini merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak didaerah pedalaman pulau Jawa. Sultan atau Raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, dilereng Gunung Merapi. Kediaman penguasa Pajang itu, menurut Babad dibangun dengan mencontoh Kraton Demak. Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang itu dengan segera mengambil alih kekuasaan,14
Karena anak sulung sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultanan, susuhunan Prawoto, dibunuh oleh keponakannya, Aria Panangsang yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegoro sekarang). Setelah Jaka Tingkir menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau Jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya di tanah pedalaman kearah Timur sampai daerah Madiun, di aliran anak sungai Bengawan Solo yang terbesar.
11Taufik Abdullah (Ed.) , op.cit., hlm. 69.
12H. J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeud, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa,(Jakarta: Grafiti pers, 1985), hlm. 49.
13Taufik Abdullah (Ed.) , op.cit., hlm. 70.
Secara berturut-turut ia dapat menundukan Blora (1554) dan Kediri (1577). Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dan dimakamkan di Butuh, suatu daerah disebelah barat taman kerajaan Pajang.
Di gantikan oleh menantunya, Aria Pangiri, anak susuhunan Prawoto. Aria Pangiri menjadi penguasa di Demak. Anak sultan Adiwijaya, pangeran Benawa, dijadikan penguasa di Jipang. Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati. Akan tetapi, Senopati menyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Mataram ia hanya minta “pusaka kerajaan” Pajang. Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618. Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.
3. Mataram
Awal dari kerajaan mataram adalah ketika sultan adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamahanan yang berasal dari daerah pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Panangsang tersebut.
Pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan menempati istana barunya di Mataram. Senopatilah yang dipandang sebagai Sultan Mataram Pertama. Senopati menolak dan hanya meminta pusaka kerajaan, diantaranya Gong Kiai Skar Dlima, Kendali Kiai Macan Guguh, dan Pelana Kiai Jatayu.15 Senopati kemudian berkeinginan menguasai juga semua raja bawahan Pajang.
Melalui perjuangan berat, peperangan demi peperangan, barulah ia berhasil menguasai sebagian. Senopati meninggal dunia tahun 1601 M, dan digantikan oleh putranya Seda Ing Krapyak yang memerintah sampai tahun 1613 M. Seda Ing Krapyak di ganti oleh putranya, Sultan Agung, yang melanjutkan usaha ayahnya. Pada tahun 1619, seluruh Jawa Timur praktis sudah berada dibawah kekuasaannya. Pada tahun 1630 M, sultan agung menetapkan Amangkurat I sebagai putra Mahkota.
Sultan Agung wafat pada tahun 1646 M dan dimakamkan di Imogiri. Masa pemerintahan Amangkurat I hamper tidak pernah reda dari konflik. Tindakan pertama pemerintahannya adalah menumpas pendukung Pangeran Alit dengan membunuh banyak ulama yang dicurigai. Sekitar 5000-6000 ulama beserta keluarganya di bunuh (1647M). Amangkurat I bahkan merasa tidak memerlukan title “Sultan”.16 Pada tahun 1677 M dan 1678 M, pemberontakan para ulama muncul kembali dengan tokoh spiritual Raden Kajoran.
14Ibid., hlm. 265.
4. Cirebon
Kerajaan ini didirikan oleh sunan gunung jati. Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan sebuah daerah kecil dibawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Disebutkan oleh Tome Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. Orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati.
Sebagai keponakan dari Pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati juga mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran.17Raja dimaksud adalah Prabu Siliwangi, raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran, yang nikah dengan Nyai Subang Larang tahun 1422. Dari perkawinannya itu lahirlah tiga orang putra, masing-masing Raden walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara. Sunan Gunung Jati adalah putra Nyai Lara Santang dari perkawinannya dengan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim, ketika Nyai itu naik haji.
Disebutkan, Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M dan wafat pada 1568 M dalam usia 120 tahun. Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda kelapa, dan Banten. Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya, sultan Hasanuddin. Atas prakarsa Sunan Gunung Jati juga penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan (1527M).
Penyerangan ini dipimpin oleh Falaehan dengan bantuan tentara Demak. Setelah Sunan Gunung Jati wafat ia digantikan oleh cicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan Ratu wafat tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Cirebon diperintahkan oleh dua putranya, Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin Ksultanan Kasepuhan sebagai rajanya yang pertama dengan gelar Samsuddin, sementara panembahan Anom memimpin kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.
15H. J. de Graaf, Awal kebangkitan Mataram, masa pemerintah, Senopati,( Jakarta: Grafitipers, 1987, 95).
16(Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1987), hlm. 108
5. Banten
Dalam tulisan sunda kuno, cerita parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Pada tahun 1524 atau 1525, Sunan Gunung Jati dari Cirebon, meletakkan dasar bagi pengenbangan agama dan kerajaan Islam serta bagi perdagangan orang-orang Islam disana.18 Penguasa Pajajaran di Banten menerima Sunan Gunung Jati denga ramah tamah dan tertarik masuk islam. Menurut berita Barrs, penyebaran islam di jawa barat tidak melalui jalan damai.
Untuk menyebarkan islam dijawa barat, langkah Sunan Gunung Jati berikutnya adalah menduduki pelabuhan Sunda yang sudah tua, kira-kira tahun 1527 M.
Kekuasaannya atas Banten diserahkan kepada putranya, Hasanudin. Hasanudin sendiri kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Penembahan Banten tahun 1552 M. Pada tahun 1568, disaat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Hasanuddin pergi kira-kira tahun 1570 dan diganti oleh anakanya, Yusuf.19Tahun 1579, Yusuf menaklukkan Pakuwan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagian besar daerah pedalaman Jawa Barat.20Setelah Yusuf meninggal dunia tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya Muhammad.
Kekuasaan pemerintahan dipegang oleh kali (Arab: qadhi, jaksa agung) bersama empat pembesar lainnya. Raja banten gugur dalam usia 25 di tahun 1569, ia meninggalkan seorang anak yang berusia 5 bulan, Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdulkadir. Dialah raja Banten pertama dengan gelar sultan yang sebenarnya.21Ia meninggal tahun 1651 dan digantikan oleh cucunya Sultan Abdulfath Abdulfath. Pada masa Sultan Abdulfath Abdulfath ini terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dan VOC dan akhirnya disetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M.22
A.5 Tumbuh Dan Berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Islam Di Kalimantan, Maluku, Dan Sulawesi
17Penanggung jawab sedjarah tjirebon (Ed.), Purwaka Tjaruban Nagari, (Djakarta: Bhratara, 1972).
18H. J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeud, op.cit., hlm. 147.
19(Ibid., hlm. 214.)
20(H. J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeud, loc. Cit.)
21(Ibid., hlm. 154.).
22(Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, jilid 1, (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm. 114.)
1. Kalimantan
Daerah barat laut menerima Islam dari Malaya, daerah timur dari Makasar dan Wilayah Selatan dari Jawa.
a. Berdiri Kerajaan Banjar Di Kalimantan Selatan
Kerajaan Banjar merupakan pelanjut dari kerajaan Daha yang beragama Hindu. Peristiwanya ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana, pangeran Samudera sebagai pewaris sah kerajaan Daha, dengan pamannya pangeran Tumenggung. Raja Sukarama merasa sudah hamper tiba ajalnya ia berwasiat, agar yang menggantikannya nanti adalah cucunya Raden Samudera.23Sukarama wafat, jabatan Raja dipegang oleh anak tertua, Pangeran MAngkubumi. Pangeran Mangkubumi tidak terlalu lama berkuasa. Ia dibunuh oleh seorang pegawai istana yang berhasil dihasut Pangeran Tumanggung. Maka pangeran Tumanggunglah yang tampil menjadi raja Daha. Pangeran Samudera berkelana ke wilayah muara. Kemudian ia diasuh oleh seorang patih, bernama Patih Masih. Untuk serangan pertama, Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan.
Patih masih mengusulkan kepada Pangeran Samudera ntuk meminta bantuan kepada kerajaan Demak. Sultan Demak bersedia membantu asal pangeran Samudera nanti masuk Islam. Pangeran Samudera setelah masuk Islam, diberi nama Sultan Suryanullah atau Suriansyah, yang dinobatkan sebagai raja pertama dalam kerajaan Islam Banjar. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun1526 M dan yang menjadi sultan Demak ketika itu adalah Trenggono, sultan ketiga yang berkuasa pada tahun 1521-1546. Sulatan Suryanullah diganti oleh putra tertuanya yang bergelar Sultan Rahmatullah. Raja-raja banjar berikutnya adalah Sultan Hidayatullah (putra Sultan Rahmatullah) dan Marhum Panambahan yang dikenal dengan Sultan Musta’inullah. Pada masa Marhum Panambahan, ibu kota kerajaan di pindahkan beberapa kali.
b. Kutai Di Kalimantan Timur
Menurut risalah kutai, dua orang penyebar Islam tiba dikutai pada masa pemerintahan Raja Mahkota. Salah seorang diantaranya adalah Tuan di Bandang, yang dikenal dengan Dato’ Ri Bandang dari Makasar, yang lainnya adalah Tuan Tunggang Parangan.24 Dato’ Ri Bandang kembali ke Makasar, sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai.
23J. J. Ras, Hikayat Banjar:A. Study In Malay Historiograpy, (the Hague MartinusNijhoff-KTLV, 1968), hlm. 376-398.)
24H. J. de Graaf, “Islam…”, op. cit., hlm. 18.
Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun 1575 M. Penyebaraan lebih jauh dilakukan terutama pada waktu putranya, Aji di Langgar dan pengganti-penggantinya meneruskan perang kedaerah Muara Kaman
2. Maluku
Islam mencapai kepulauan rempah-rempah yang sekarang dikenal dengan Maluku ini pada pertenganhan terakhir abad ke-15. Nama raja itu adalahVongi Tidore. Ia mengambil seorang istri keturunan Ningrat dari Jawa.25 Namun H. J. de Graaf berpendapat, raja pertama yang benar-benar Muslim adalah Zayn Al-‘Abidin (1486-1500 M). para pedagang muslim itu dan memutuskan belajar tentang Islam pada Madrasah Giri. Ia dikenal dengan nama Raja Bulawa atau raja Cengkeh, mungkin karena ia membawa cengkeh kesana sebagai hadiah. Karena usia Islam masih muda di Ternate, Portugis yang tiba disana pada tahun 1522 M.
3. Sulawesi (Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng Dan Luwu)
Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut dengan Kerajaan Makasar. Kerajaan ini terletakdi semenanjung barat Daya pulau Sulawesi, yang merupakan daerah transito yang strategis. Dibawah pemerintahan Sultan Babullah, ternate mengadakan perjanjian persahabatan dengan Gowa-Tallo. Pada waktu Dato’ Ri Bandang datang kekerajaan Gowa-Tallo, agama Islam mulai masuk kerajaan ini. Alauddin (1591-1636) adalah sultan pertama yang menganut Islam tahun 1605.26
Kerajaan kembar Gowa-Tallo menyampaikan “pesan Islam” kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, yang lebih tua, Wajo, Soppeng, dan Bone. Tiga kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang terikat dalam aliansi Tallumpoeco (tiga kerajaan) dalam perebutan hagemoni dengan Gowa-Tallo. Wajo menerima Islam tanggal 10 mei 1610 dan Bone, Saingan politik Gowa sejak pertengahan abad ke-16, tanggal 23 November 1611.27raja Bone pertama yang masuk Islam dikenal dengan gelar Sultan Adam.
25Taufik Abdullah, Sejarah …,op, cit., hlm. 94.
26Ibid., hlm. 89.
27Uka Tjandrasasmita (Ed), Sejarah…, op. cit., hlm. 26.
B. Perkembangan Keagamaan dan Peradaban
Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap. Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.
Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap Muslim diharapkan mampu membaca al Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan dengan belajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah dari Aceh hingga Mindanao.
Bahasa-bahasa lokal diperluasnya dengan kosa-kata dan gaya bahasa Arab. Bahasa Melayu secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh wilayah itu.
Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera bermunculan. Banyak daerah di wilayah ini seperti Pasai, Malaka dan Aceh juga Pattani muncul sebagai pusat pengajaran agama yang menjadi daya tarik para pelajar dari sejumlah penjuru wilayah ini.
Masjid atau Surau menjadi lembaga pusat pengajaran. Namun beberapa lembaga seperti pesantren di Jawa dan pondok di Semenanjung Melaya segera berdiri. Hubungan dengan pusat-pusat pendidikan di Dunia Islam segera di bina. Tradisi pengajaran Paripatetis yang mendahului kedatangan Islam di wilayah ini tetap berlangsung.
Ibadah Haji ke Tanah Suci di selenggarakan, dan ikatan emosional, spritual, psikologis, dan intelektual dengan kaum Muslim Timur Tengah segera terjalin. Di bawah bimbingan para ulama Arab dan dukungan negara, wilayah ini melahirkan ulama-ulama pribumi yang segera mengambil kepemimpinan lslam di wilayah ini. Semua perkembangan bisa dikatakan karena lslam, kemudian melahirkan pandangan hidup kaum Muslim yang unik di wilayah ini.
Mengenai masalah identitas, internalisasi Islam, atau paling tidak aspek luarnya, oleh pendudukan kepulauan membuat Islam muncul sebagai kesatuan yang utuh dari jiwa dan identitas subyektif mereka. Namun fragmentasi politik yang mewarnai wilayah ini, di sisi lain, juga melahirkan perasaan akan perbedaan identitas politik diantara penduduk yang telah di Islamkan.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim, M.A. Dr. Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta 1993.